Wayang Maya

Bima atau Werkudara

Bima adalah nama kecil anak kedua dari pasangan Prabu Pandu Dewanata dengan Dewi Kunthi Talibraja, atau keluarga Pendawa. Bima atau setelah remaja dikenal dengan Bratasena adalah terkenal dengan sosok yang kesatria dan bijaksana, ia juga menjadi tulang punggung kekuatan negara Amarta. Tidak kenal basa basi, tidak pernah menyerah dalam bertanding sebelum ajal menemuinya.

Ia memiliki keanehan saat lahir di mayapada, yaitu dalam wujud bungkus (Seperti Telur) yang keras, sehingga hanya bisa dipecahkan oleh Gajah Sena yang tidak lain merupakan jelmaan Bathara Gana. Sampai dewasa ia berambut panjang terurai, saat bersama-sama saudaranya membangun hutan Wanamarta hingga menjadi istana Amarta, Bratasena atau Bima dewasa pernah bertarung dengan raja lelembut yang bernama Dandon Wacana, yang penampakannya mirip dengan rupa dirinya, hingga saat jin tersebut telah di takhlukkan jin tersebut meleburkan dirinya dan merasuk ketubuh Bratasena sehingga bertambah kekuatannya.

Dalam pengembaraannya ia berguru kepada Begawan Durna, dengan disuruh mencari pohon tempat bersarangnya angin dan air kehidupan (Tirta Perwitasari). Dengan penuh tekad  kepatuhan dan kesungguhan dengan berbagai resiko yang berat ia mencapai tataran penghayatan Ketuhanan yang tinggi yaitu bertemu dengan Shang Dhiri atau Dewa Ruci. 

Setelah semua lika-liku pengalaman ia jalani, dengan gagah beraninya ia tampil  sebagai panglima dalam membela Pandawa dalam merebut haknya atas Astinapura dalam Pertempuran Bharata Yudha dengan sepupunya yaitu Kurawa. Dengan tewasnya Duryudana, pimpinan Kurawa yang keras kepala, yaitu Putra sulung Destarasta maka sesaat keangkara murkaan dunia dapat ditumpas dengan keadilan dan kebijaksanaan. 

=============
Bima atau Bratasena atau Werkudara adalah gambaran jiwa seseorang yang punya tekad, konsisten dan tegas tanpa basa-basi. Disisi lain Bima merupakan gambaran dari Rukun Islam yang kedua yaitu Sholat. Sesuai kisah kelahiran Bima, Dalam pemwahyuan sholat dalam Kitab Al Qur'an, keterangan perintahnya sangat simpel dan global, butuh para pakar untuk bisa mengamalkan perintah tersebut, hingga digambarkan adanya keterlibatan Bathara Gana yang tidak lain merupakan simbul Ilmu Pengetahuan. Begawan Durna sebagai gambaran Guru Pembimbing. Tanpa peran Tabiin, Mujtahid dan Ulama, umat yang jauh dari masa hidup Rasul Muhammad Saw tak akan mampu menjalankan perintah shalat tersebut. Dan tanpa guru yang mengawal tak akan mampu seorang hamba mencapai essensi shalat yang sesungguhnya yaitu mencegah perbuatan keji dan mungkar. Hingga shalat dianggap tiang penyangga dalam tegaknya keIslaman seseorang.NP

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wayang Maya

Keagamaan

Wayang Maya