Wayang Maya

Puntadewa atau Yudistira

Puntadewa adalah anak pertama dari pasangan Prabu Pandu Dewanata dengan Dewi Kunthi Talibraja, bagian dari keluarga besar Hastinapura, sejak kecil ia telah ditinggal mati oleh sang Ayah dan diasuh penuh kasih sayang oleh Dewi Kunthi serta diberi pelajaran keutamaan hidup dan budi pekerti oleh sang Kakek Begawan Abiyasa di pertapaan Wukir Retawu.

Ia pernah melakukan kekhilafan karena terhasut kelicikan Patih Sangkuni yang tidak lain adalah paman dari saudara sepupunya sendiri yaitu Kurawa, hingga satu keluarganya yaitu Pandawa diungsikan keluar negeri. 

Dalam Pembuangan Puntadewa menyamar sebagai petugas pasar dengan nama Dwijakangka, dan karena prestasinya jabatannya terus meningkat hingga menjadi kepala pasar. Penyamarannya terbongkar setelah berjalan tiga belas tahun, saat negeri ia tinggal yaitu Wirata, diserang kerajaan Tripala yang bersekutu dengan Astinapura yang tidak lain sepupunya sendiri. Dengan prinsip dimana negeri ia tinggal ia ikut membantu mempertahankan kondusifitas keamanan dan ketentraman, hingga akhirnya Wirata bisa bertahan dari serangan musuh dan keluarga Pendawa pun diberi hadiah wilayah kecil yang akhirnya didirikan negara kecil oleh keluarga Pendawa dengan nama Indraprasta, sebagai tempat untuk mempersiapkan diri untuk menuntut haknya atas Astinapura dan Amarta yang dikuasai sepupunya yaitu Kurawa.

Setelah peperangan agung antar saudara sepupu yaitu Pandawa dan Kurawa yang dikenal dengan Bharata Yudha dengan dimenangkan Pandawa sebagai kepastian Yang Maha Kuasa bahwa Keangkaramurkaan dapat dilenyapkan dari muka bumi oleh kebaikan, Puntadewa naik tahta dengan gelar Prabu Kalimataya, untuk memimpin dan mengayomi rakyat Astinapura.

Setelah sekian lama menjadi Raja memimpin rakyatnya dengan baik, Puntadewa mengalami duka mendalam saat ditinggal mati Ibundanya dan juga Guru tercintanya Sri Kresna, hingga ia memutuskan diri untuk moksa dengan mendaki gunung untuk mencapai puncak pengembalian diri kepada Shang Pancipta. 

Dengan kesabaran dan kasih sayangnya, walaupun pernah diuji untuk ditolak masuk ke Swargaloka karena diikuti anjing, ia tetap sabar untuk menyayangi makhluq yang lain, hingga terbuka bahwa anjing tersebut hanyalah penjilmaan Bathara Darma yang sebenarnya adalah penuntun Puntadewa menuju kebahagiaan abadi. 
-----------------------------------------
Wayang adalah Cerminan jiwa manusia, setiap tokoh pewayangan adalah gambaran jiwa seseorang dalam waktu yang tidak ada ketentuannya, kadang manusia berjiwa mulia kadang juga berjiwa angkara murka, kapan dan bagaimana kondisi jiwa seseorang, yang tau hanyalah Tuhan dan orang tersebut. Puntadewa adalah gambaran jiwa yang sesaat menyamar dari kebesaran, saat yang lain harus menampakkan kebesaran demi kebaikan, dan yang pasti gambaran jiwa dalam diri yang selalu ingin kembali bersama Tuhan Mang Maha Esa, yang diri manusia harus memenuhi haknya jiwanya tersebut. NP

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wayang Maya

Keagamaan